Awalnya
merupakan salah satu dari pelabuhan Kerajaan Sunda. Pelabuhan ini direbut 1525
oleh gabungan dari tentara Demak dan Cirebon. Setelah ditaklukan daerah ini
diislamkan oleh Sunan Gunung Jati. Pelabuhan Sunda lainnya yang juga dikuasai
Demak adalah Sunda Kelapa, dikuasai Demak 1527, dan diganti namanya menjadi
Jayakarta
B.Kehidupan
Politik
Berkembangnya
kerajaan Banten tidak terlepas dari peranan raja-raja yang memerintah di
kerajaan tersebut. Dalam perkembangan politiknya, selain Banten berusaha
melepaskan diri dari kekuasaan Demak, Banten juga berusaha memperluas daerah
kekuasaannya antara lain Pajajaran. Dengan dikuasainya Pajajaran, maka seluruh
daerah Jawa Barat berada di bawah kekuasaan Banten. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan
raja Panembahan Yusuf.
Pada
masa pemerintahan Maulana Muhammad, perluasan wilayah Banten diteruskan ke
Sumatera yaitu berusaha menguasai daerah-daerah yang banyak menghasilkan lada
seperti Lampung, Bengkulu dan Palembang. Lampung dan Bengkulu dapat dikuasai
Banten tetapi Palembang mengalami kegagalan, bahkan Maulana Muhammad meninggal
ketika melakukan serangan ke Palembang.
Dengan
dikuasainya pelabuhan-pelabuhan penting di Jawa Barat dan beberapa daerah di
Sumatera, maka kerajaan Banten semakin ramai untuk perdagangan, bahkan
berkembang sebagai kerajaan maritim. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan
Sultan Ageng Tirtayasa. Pemerintahan Sultan Ageng, Banten mencapai puncak
keemasannya Banten menjadi pusat perdagangan yang didatangi oleh berbagai bangsa
seperti Arab, Cina, India, Portugis dan bahkan Belanda.
Belanda
pada awalnya datang ke Indonesia, mendarat di Banten tahun 1596 tetapi karena
kesombongannya, maka para pedagang-pedagang Belanda tersebut dapat diusir dari
Banten dan menetap di Jayakarta.
Di
Jayakarta, Belanda mendirikan kongsi dagang tahun 1602. Selain mendirikan
benteng di Jayakarta VOC akhirnya menetap dan mengubah nama Jayakarta menjadi
Batavia tahun 1619, sehingga kedudukan VOC di Batavia semakin kuat. Adanya
kekuasaan Belanda di Batavia, menjadi saingan bagi Banten dalam perdagangan.
Persaingan tersebut kemudian berubah menjadi pertentangan politik, sehingga
Sultan Ageng Tirtayasa sangat anti kepada VOC.
Dalam
rangka menghadapi Belanda/VOC, Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan melakukan
perang gerilya dan perampokan terhadap Belanda di Batavia. Akibat tindakan
tersebut, maka Belanda menjadi kewalahan menghadapi Banten. Untuk menghadapi
tindakan Sultan Ageng Tirtayasa tersebut, maka Belanda melakukan politik
adu-domba (Devide et Impera) antara Sultan Ageng dengan putranya yaitu Sultan
Haji. Akibat dari politik adu-domba tersebut, maka terjadi perang saudara di
Banten, sehingga Belanda dapat ikut campur dalam perang saudara tersebut.
Belanda
memihak Sultan Haji, yang akhirnya perang saudara tersebut dimenangkan oleh
Sultan Haji. Dengan kemenangan Sultan Haji, maka Sultan Ageng Tirtayasa ditawan
dan dipenjarakan di Batavia sampai meninggalnya tahun 1692. Dampak dari bantuan
VOC terhadap Sultan Haji maka Banten harus membayar mahal, di mana Sultan Haji
harus menandatangani perjanjian dengan VOC tahun 1684.
Perjanjian
tersebut sangat memberatkan dan merugikan kerajaan Banten, sehingga Banten
kehilangan atas kendali perdagangan bebasnya, karena Belanda sudah memonopoli
perdagangan di Banten. Akibat terberatnya adalah kehancuran dari kerajaan
Banten itu sendiri karena VOC/Belanda mengatur dan mengendalikan kekuasaan raja
Banten. Raja-raja Banten sejak saat itu berfungsi sebagai boneka.
C.Kehidupan
Ekonomi
Kerajaan
Banten yang letaknya di ujung barat Pulau Jawa dan di tepi Selat Sunda
merupakan daerah yang strategis karena merupakan jalur lalu-lintas pelayaran
dan perdagangan khususnya setelah Malaka jatuh tahun 1511, menjadikan Banten
sebagai pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai
bangsa.
Pelabuhan
Banten juga cukup aman, sebab terletak di sebuah teluk yang terlindungi oleh
Pulau Panjang, dan di samping itu Banten juga merupakan daerah penghasil bahan
ekspor seperti lada.
Selain
perdagangan kerajaan Banten juga meningkatkan kegiatan pertanian, dengan
memperluas areal sawah dan ladang serta membangun bendungan dan irigasi.
Kemudian membangun terusan untuk memperlancar arus pengiriman barang dari
pedalaman ke pelabuhan. Dengan demikian kehidupan ekonomi kerajaan Banten terus
berkembang baik yang berada di pesisir maupun di pedalaman.
D.Kehidupan
Sosial Budaya
Kehidupan
masyarakat Banten yang berkecimpung dalam dunia pelayaran, perdagangan dan
pertanian mengakibatkan masyarakat Banten berjiwa bebas, bersifat terbuka
karena bergaul dengan pedagang-pedagang lain dari berbagai bangsa.
Para pedagang lain tersebut banyak yang menetap dan
mendirikan perkampungan di Banten, seperti perkampungan Keling, perkampungan
Pekoyan (Arab), perkampungan Pecinan (Cina) dan sebagainya.
Di
samping perkampungan seperti tersebut di atas, ada perkampungan yang dibentuk
berdasarkan pekerjaan seperti Kampung Pande (para pandai besi), Kampung
Panjunan (pembuat pecah belah) dan kampung Kauman (para ulama).
Dalam
bidang kebudayaan : Di kerajaan Banten pernah tinggal seorang Syeikh yang
bernama Syeikh Yusuf Makassar (1627-1699), ia sahabat dari Sultan Agung
Tirtayasa, juga Kadhi di Kerajaan Banten yang menulis 23 buku. Selain itu di
Banten pada akhir masa kesultanan lahir seorang ulama besar yaitu Muhammad Nawawi
Al-bantani pernah menjadi Imam besar di Masjidil Haram. Ia wafat dan dimakamkan
di Makkah, sedikitnya ia telah menulis 99 kitab dalam bidang Tafsir, Hadits,
Sejarah, Hukum, tauhid dan lain-lain. Melihat kajiannya yang beragam
menunjukkan ia seorang yang luas wawasannya.
Salah
satu contoh wujud akulturasi tampak pada bangunan Masjid Agung Banten, yang
memperlihatkan wujud akulturasi antara kebudayaan Indonesia, Hindu, Islam di
Eropa.
Arsitek Masjid Agung
Banten tersebut adalah Jan Lucas Cardeel, seorang pelarian Belanda yang
beragama Islam. Kepandaiannya dalam bidang bangunan dimanfaatkan oleh Sultan
Ageng Tirtayasa untuk mendirikan bangunan-bangunan gaya Belanda (Eropa) seperti
benteng kota Inten, pesanggrahan Tirtayasa dan bangunan Madrasah.
Kesultanan
Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496. Diawal-awal masa
pemerintahannya wilayah Kesultanan Aceh berkembang hingga mencakup Daya, Deli,
Pedir, Pasai, dan Aru.
Pada tahun 1528,
Ali Mughayat Syah digantikan oleh putera sulungnya yang bernama Salahuddin, yang kemudian berkuasa hingga
tahun 1537.
Kemudian Salahuddin digantikan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar yang
berkuasa hingga tahun 1568.
B.Masa Kejayaan
Kesultanan
Aceh mengalami masa keemasan pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636). Pada masa
kepemimpinannya, Aceh telah berhasil memukul mundur kekuatan Portugis dari
selat Malaka. Kejadian ini dilukiskan dalam La Grand Encyclopedie bahwa pada
tahun 1582, bangsa Aceh sudah meluaskan pengaruhnya atas pulau-pulau Sunda
(Sumatera, Jawa dan Kalimantan) serta atas sebagian tanah Semenanjung Melayu. Selain
itu Aceh juga melakukan hubungan diplomatik dengan semua bangsa yang melayari
Lautan Hindia. Pada tahun 1586, kesultanan Aceh melakukan penyerangan terhadap
Portugis di Melaka dengan armada yang terdiri dari 500 buah kapal perang dan
60.000 tentara laut. Serangan ini dalam upaya memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka
dan semenanjung Melayu. Walaupun Aceh telah berhasil mengepung Melaka dari
segala penjuru, namun penyerangan ini gagal dikarenakan adanya persekongkolan
antara Portugis dengan kesultanan Pahang.
Dalam
lapangan pembinaan kesusasteraan dan ilmu agama, Aceh telah melahirkan beberapa
ulama ternama, yang karangan mereka menjadi rujukan utama dalam bidang
masing-masing, seperti Hamzah Fansuri dalam bukunya Tabyan Fi
Ma'rifati al-U Adyan, Syamsuddin
al-Sumatrani dalam bukunya Mi'raj al-Muhakikin al-Iman, Nuruddin ar-Raniry dalam
bukunya Sirat al-Mustaqim, dan Syekh Abdul
Rauf Singkili dalam bukunya Mi'raj al-Tulabb Fi Fashil.
C.Kemunduran
Kemunduran
Kesultanan Aceh bermula sejak kemangkatan Sultan Iskandar Tsani pada tahun
1641. Kemunduran Aceh disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya ialah makin
menguatnya kekuasaan Belanda di pulau Sumatera dan Selat Malaka, ditandai
dengan jatuhnya wilayah Minangkabau, Siak, Deli dan Bengkulu kedalam pangkuan
penjajahan Belanda. Faktor penting lainnya ialah adanya perebutan kekuasaan
diantara pewaris tahta kesultanan.
Traktat
London yang ditandatangani pada 1824 telah memberi kekuasaan kepada
Belanda untuk menguasai segala kawasan British/Inggris di Sumatra sementara
Belanda akan menyerahkan segala kekuasaan perdagangan mereka di India dan juga
berjanji tidak akan menandingi British/Inggris untuk menguasai Singapura.
Pada
akhir November 1871, lahirlah apa yang disebut dengan Traktat Sumatera, dimana
disebutkan dengan jelas "Inggris wajib berlepas diri dari segala unjuk
perasaan terhadap perluasan kekuasaan Belanda di bagian manapun di Sumatera.
Pembatasan-pembatasan Traktat London 1824 mengenai Aceh dibatalkan." Sejak
itu, usaha-usaha untuk menyerbu Aceh makin santer disuarakan, baik dari negeri
Belanda maupun Batavia.
Setelah melakukan peperangan selama 40 tahun, Kesultanan Aceh akhirnya jatuh ke
pangkuan kolonial Hindia-Belanda. Sejak kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Aceh
menyatakan bersedia bergabung ke dalam Republik indonesia atas ajakan dan bujukan
dari Soekarno
kepada pemimpin Aceh Tengku Muhammad Daud Beureueh saat itu[rujukan?].
D.Perang Aceh
Perang Aceh
dimulai sejak Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret1873 setelah melakukan
beberapa ancaman diplomatik, namun tidak berhasil merebut wilayah yang besar.
Perang kembali berkobar pada tahun 1883, namun lagi-lagi gagal, dan pada 1892 dan 1893, pihak Belanda
menganggap bahwa mereka telah gagal merebut Aceh.
Dr. Snouck
Hurgronje, seorang ahli Islam dari Universitas Leiden yang telah berhasil
mendapatkan kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh, kemudian memberikan saran
kepada Belanda agar serangan mereka diarahkan kepada para ulama, bukan kepada
sultan. Saran ini ternyata berhasil. Pada tahun 1898, J.B. van Heutsz
dinyatakan sebagai gubernur Aceh, dan bersama letnannya, Hendricus Colijn, merebut
sebagian besar Aceh.
Sultan
M. Dawud akhirnya meyerahkan diri kepada Belanda pada tahun 1903 setelah dua istrinya,
anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Kesultanan Aceh
akhirnya jatuh seluruhnya pada tahun 1904. Saat itu, hampir seluruh Aceh telah direbut Belanda.
E.Sultan Aceh
Sultan
Aceh merupakan penguasa / raja dari Kesultanan Aceh, tidak
hanya sultan, di Aceh juga terdapat Sultanah / Sultan Wanita. Daftar Sultan yang
pernah berkuasa di Aceh dapat dilihat lebih jauh di artikel utama dari Sultan Aceh.
F.Gelar – Gelar yang Digunakan
dalam Kerajaan Aceh
Bila menilik dari catatan sejarah ataupun
prasasti yang ada, tidak ada penjelasan atau catatan yang pasti mengenai
siapakah yang pertama kalinya mendirikan kerajaan Tarumanegara. Raja yang
pernah berkuasa dan sangat terkenal dalam catatan sejarah adalah Purnawarman.
Pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali
Bekasi) sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu
mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.
Bukti keberadaan Kerajaan Taruma diketahui
melalui sumber-sumber yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari
dalam negeri berupa tujuh buah prasasti batu yang ditemukan empat di Bogor, satu di Jakarta
dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa kerajaan
dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan beliau
memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di
sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan
dari Kerajaan Salakanagara.
B.Prasasti Yang Ditemukan
1.Prasasti Kebon Kopi, dibuat sekitar 400 M
(H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor
2.Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung
Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan
di museum di Jakarta.
Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh
Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22
masa pemerintahannya.Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk
menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa
pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.
3.Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul,
ditemukan di aliran Sungai Cidanghiang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan
Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, berisi pujian kepada Raja Purnawarman.
4.Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor
5.Prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor
6.Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor
7.Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor
Lahan tempat prasasti itu ditemukan
berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai:
Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan
dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang
termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.
Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan
Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah "kota pelabuhan
sungai" yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten.
Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil
perkebunan kopi. Sekarang masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut
barang dagangannya ke daerah hilir.
Prasasti pada zaman ini menggunakan aksara
Sunda kuno, yang pada awalnya merupakan perkembangan dari aksara tipe Pallawa
Lanjut, yang mengacu pada model aksara Kamboja dengan beberapa cirinya yang
masih melekat. Pada zaman ini, aksara tersebut belum mencapai taraf modifikasi
bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke-16.
C.Sumber Berita Dari Luar Negeri
Sumber-sumber dari luar negeri semuanya
berasal dari berita Tiongkok.
1.Berita Fa Hien, tahun 414M dalam bukunya
yang berjudul Fa Kao Chi menceritakan bahwa di Ye-po-ti ("Jawadwipa")
hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Buddha, yang banyak adalah
orang-orang yang beragama Hindu dan "beragama kotor" (maksudnya animisme).
2.Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa
tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To-lo-mo ("Taruma") yang
terletak di sebelah selatan.
3.Berita Dinasti Tang, juga menceritakan
bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusan dari To-lo-mo.
Dari tiga berita di atas para ahli
menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara fonetis penyesuaian kata-katanya
sama dengan Tarumanegara.
Maka berdasarkan sumber-sumber yang telah
dijelaskan sebelumnya maka dapat diketahui beberapa aspek kehidupan tentang
Taruma.
Kerajaan Tarumanegara
diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M. Berdasarkan prasast-prasati
tersebut diketahui raja yang memerintah pada waktu itu adalah Purnawarman.
Wilayah kekuasaan Purnawarman menurut prasasti Tugu, meliputi hapir seluruh
Jawa Barat yang membentang dari Banten, Jakarta,
Bogor dan Cirebon.
Jumat, 18 Januari 2013
A.Berdirinya Majapahit
Arca Harihara, dewa gabungan
Siwa dan Wisnu sebagai penggambaran Kertarajasa. Berlokasi semula di Candi
Simping, Blitar, kini menjadi koleksi Museum Nasional Republik Indonesia.
Sesudah Singhasari mengusir
Sriwijaya dari Jawa secara keseluruhan pada tahun 1290, Singhasari menjadi
kerajaan paling kuat di wilayah tersebut. Hal ini menjadi perhatian Kubilai
Khan, penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng
Chi ke Singhasari yang menuntut upeti. Kertanagara, penguasa kerajaan
Singhasari yang terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan
tersebut dengan merusak wajahnya dan memotong telinganya. Kublai Khan marah dan
lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293.
Ketika itu, Jayakatwang,
adipati Kediri,
sudah membunuh Kertanagara. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan
pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu Kertanegara, yang datang menyerahkan
diri. Raden Wijaya kemudian diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan
membangun desa baru. Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya diambil dari buah
maja, dan rasa "pahit" dari buah tersebut. Ketika pasukan Mongol
tiba, Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol untuk bertempur melawan
Jayakatwang. Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa
mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-kabut karena mereka
berada di teritori asing. Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka
untuk menangkap angin muson agar dapat pulang, atau mereka harus terpaksa
menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.
Tanggal pasti yang digunakan
sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit adalah hari penobatan Raden Wijaya
sebagai raja, yaitu pada tanggal 10 November 1293. Ia dinobatkan dengan nama
resmi Kertarajasa Jayawardhana. Kerajaan ini menghadapi masalah. Beberapa orang
terpercaya Kertarajasa, termasuk Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak
melawannya, meskipun pemberontakan tersebut tidak berhasil. Slamet Muljana
menduga bahwa mahapatih Halayudha lah yang melakukan konspirasi untuk
menjatuhkan semua orang terpercaya raja, agar ia dapat mencapai posisi
tertinggi dalam pemerintahan. Namun setelah kematian pemberontak terakhir
(Kuti), Halayudha ditangkap dan dipenjara, dan lalu dihukum mati. Wijaya
meninggal dunia pada tahun 1309.
Anak dan penerus Wijaya,
Jayanegara, adalah penguasa yang jahat dan amoral. Ia digelari Kala Gemet, yang
berarti "penjahat lemah". Pada tahun 1328, Jayanegara dibunuh oleh
tabibnya, Tanca. Ibu tirinya yaitu Gayatri Rajapatni seharusnya
menggantikannya, akan tetapi Rajapatni memilih mengundurkan diri dari istana
dan menjadi pendeta wanita. Rajapatni menunjuk anak perempuannya Tribhuwana
Wijayatunggadewi untuk menjadi ratu Majapahit. Selama kekuasaan Tribhuwana,
kerajaan Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di daerah
tersebut. Tribhuwana menguasai Majapahit sampai kematian ibunya pada tahun
1350. Ia diteruskan oleh putranya, Hayam Wuruk.
B.Kejayaan Majapahit
Terakota wajah yang dipercaya
sebagai potret Gajah Mada.
Hayam Wuruk, juga disebut
Rajasanagara, memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masanya
Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan bantuan mahapatihnya, Gajah Mada.
Di bawah perintah Gajah Mada (1313-1364), Majapahit menguasai lebih banyak
wilayah. Pada tahun 1377, beberapa tahun setelah kematian Gajah Mada, Majapahit
melancarkan serangan laut ke Palembang,
menyebabkan runtuhnya sisa-sisa kerajaan Sriwijaya.
Menurut Kakawin Nagarakretagama
pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya,
Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian
kepulauan Filipina. Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa
daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan
terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang
mungkin berupa monopoli oleh raja. Majapahit juga memiliki hubungan dengan
Campa, Kamboja, Siam,
Birma bagian selatan, dan Vietnam,
dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok.
C.Jatuhnya Majapahit
Sesudah mencapai puncaknya pada
abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Tampaknya terjadi
perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan
Wikramawardhana. Demikian pula telah terjadi pergantian raja yang
dipertengkarkan pada tahun 1450-an, dan pemberontakan besar yang dilancarkan
oleh seorang bangsawan pada tahun 1468.
Dalam tradisi Jawa ada sebuah
kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi.
Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai
0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna
hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian yang sebenarnya digambarkan oleh
candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit,
oleh Girindrawardhana.
Ketika Majapahit didirikan,
pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki Nusantara. Pada
akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh Nusantara
mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang
berdasarkan Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat
Nusantara.
Catatan sejarah dari Tiongkok,
Portugis (Tome Pires), dan Italia (Pigafetta) mengindikasikan bahwa telah
terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan
Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M.
D.Kebudayaan
Gapura Bajangratu, diduga kuat
menjadi gerbang masuk keraton Majapahit. Bangunan ini masih tegak berdiri di
kompleks Trowulan.
Ibu kota
Majapahit di Trowulan merupakan kota
besar dan terkenal dengan perayaan besar keagamaan yang diselenggarakan setiap
tahun. Agama Buddha, Siwa, dan Waisnawa (pemuja Wisnu) dipeluk oleh penduduk
Majapahit, dan raja dianggap sekaligus titisan Buddha, Siwa, maupun Wisnu.
Walaupun batu bata telah
digunakan dalam candi pada masa sebelumnya, arsitek Majapahitlah yang paling
ahli menggunakannya. Candi-candi Majapahit berkualitas baik secara geometris
dengan memanfaatkan getah tumbuhan merambat dan gula merah sebagai perekat batu
bata. Contoh candi Majapahit yang masih dapat ditemui sekarang adalah Candi
Tikus dan Candi Bajangratu di Trowulan, Mojokerto.
E.Ekonomi
Celengan zaman Majapahit, abad
14-15 Masehi Trowulan, Jawa Timur. (Koleksi
Museum Gajah, Jakarta)
Majapahit merupakan negara
agraris dan sekaligus negara perdagangan. Majapahit memiliki pejabat sendiri
untuk mengurusi pedagang dari India dan Tiongkok yang menetap di ibu kota kerajaan maupun
berbagai tempat lain di wilayah Majapahit di Jawa.
Menurut catatan Wang Ta-yuan,
pedagang Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain,
dan burung kakak tua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak,
sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Mata uangnya dibuat dari campuran
perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan Odorico da
Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321,
menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan
permata.
F.Struktur Pemerintahan
Majapahit memiliki struktur
pemerintahan dan susunan birokrasi yang teratur pada masa pemerintahan Hayam
Wuruk, dan tampaknya struktur dan birokrasi tersebut tidak banyak berubah
selama perkembangan sejarahnya. Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia
dan ia memegang otoritas politik tertinggi.
G.Aparat Birokrasi
Raja dibantu oleh sejumlah
pejabat birokrasi dalam melaksanakan pemerintahan, dengan para putra dan
kerabat dekat raja memiliki kedudukan tinggi. Perintah raja biasanya diturunkan
kepada pejabat-pejabat di bawahnya, antara lain yaitu:
Rakryan
Mahamantri Katrini, biasanya dijabat putra-putra raja
Rakryan
Mantri ri Pakira-kiran, dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan
Dharmmadhyaksa,
para pejabat hukum keagamaan
Dharmma-upapatti,
para pejabat keagamaan
Dalam Rakryan Mantri ri
Pakira-kiran terdapat seorang pejabat yang terpenting yaitu Rakryan Mapatih
atau Patih Hamangkubhumi. Pejabat ini dapat dikatakan sebagai perdana menteri
yang bersama-sama raja dapat ikut melaksanakan kebijaksanaan pemerintahan.
Selain itu, terdapat pula semacam dewan pertimbangan kerajaan yang anggotanya
para sanak saudara raja, yang disebut Bhattara Saptaprabhu.
H.Pembagian Wilayah
Di bawah raja Majapahit
terdapat pula sejumlah raja daerah, yang disebut Paduka Bhattara. Mereka
biasanya merupakan saudara atau kerabat dekat raja dan bertugas dalam
mengumpulkan penghasilan kerajaan, penyerahan upeti, dan pertahanan kerajaan di
wilayahnya masing-masing. Dalam Prasasti Wingun Pitu (1447 M) disebutkan bahwa
pemerintahan Majapahit dibagi menjadi 14 daerah bawahan, yang dipimpin oleh
seseorang yang bergelar Bhre. Daerah-daerah bawahan tersebut yaitu:
Daha
Jagaraga
Kabalan
Kahuripan
Keling
Kelinggapura
Kembang
Jenar
Matahun
Pajang
Singhapura
Tanjungpura
Tumapel
Wengker
Wirabumi
I.Raja – Raja Majapahit
Genealogi keluarga kerajaan
Majapahit. Penguasa ditandai dalam gambar ini.Berikut adalah daftar penguasa
Majapahit. Perhatikan bahwa terdapat periode kekosongan antara pemerintahan
Rajasawardhana (penguasa ke-8) dan Girishawardhana yang mungkin diakibatkan
oleh krisis suksesi yang memecahkan keluarga kerajaan Majapahit menjadi dua
kelompok.
Raden Wijaya,
bergelar Kertarajasa Jayawardhana (1293 - 1309)
Kalagamet,
bergelar Sri Jayanagara (1309 - 1328)
Sri
Gitarja, bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328 - 1350)
Hayam
Wuruk, bergelar Sri Rajasanagara (1350 - 1389)
Wikramawardhana
(1389 - 1429)
Suhita (1429
- 1447)
Kertawijaya,
bergelar Brawijaya I (1447 - 1451)
Rajasawardhana,
bergelar Brawijaya II (1451 - 1453)
Purwawisesa
atau Girishawardhana, bergelar Brawijaya III (1456 - 1466)
Bhre
Pandansalas, atau Suraprabhawa, bergelar Brawijaya IV (1466 - 1468)
Bhre
Kertabumi, bergelar Brawijaya V (1468 - 1478)
Girindrawardhana,
bergelar Brawijaya VI (1478 - 1498)
Hudhara,
bergelar Brawijaya VII (1498-1518)
J.Warisan Sejarah
Arca pertapa Hindu dari masa
Majapahit akhir. KoleksiMuseum für Indische
Kunst, Berlin-Dahlem,
Jerman. Majapahit telah menjadi sumber inspirasi kejayaan masa lalu bagi
bangsa-bangsa Nusantara pada abad-abad berikutnya.
Legitimasi
Politik
Kesultanan-kesultanan Islam Demak,
Pajang, dan Mataram berusaha mendapatkan legitimasi atas kekuasaan mereka
melalui hubungan ke Majapahit. Demak menyatakan legitimasi keturunannya melalui
Kertabhumi; pendirinya, Raden Patah, menurut babad-babad keraton Demak
dinyatakan sebagai anak Kertabhumi dan seorang Putri Cina, yang dikirim ke luar
istana sebelum ia melahirkan. Penaklukan Mataram atas Wirasaba tahun 1615 yang
dipimpin langsung oleh Sultan Agung sendiri memiliki arti penting karena
merupakan lokasi ibukota Majapahit. Keraton-keraton Jawa Tengah memiliki
tradisi dan silsilah yang berusaha membuktikan hubungan para rajanya dengan
keluarga kerajaan Majapahit — sering kali dalam bentuk makam leluhur, yang di
Jawa merupakan bukti penting — dan legitimasi dianggap meningkat melalui
hubungan tersebut. Bali secara khusus mendapat pengaruh besar dari Majapahit,
dan masyarakat Bali menganggap diri mereka
penerus sejati kebudayaan Majapahit.
Para penggerak nasionalisme
Indonesia modern, termasuk mereka yang terlibat Gerakan Kebangkitan Nasional di
awal abad ke-20, telah merujuk pada Majapahit, disamping Sriwijaya, sebagai
contoh gemilang masa lalu Indonesia. Majapahit kadang dijadikan acuan batas
politik negara Republik Indonesia
saat ini. Dalam propaganda yang dijalankan tahun 1920-an, Partai Komunis
Indonesia menyampaikan visinya tentang masyarakat tanpa kelas sebagai
penjelmaan kembali dari Majapahit yang diromantiskan. Sukarno juga mengangkat
Majapahit untuk kepentingan persatuan bangsa, sedangkan Orde Baru
menggunakannya untuk kepentingan perluasan dan konsolidasi kekuasaan negara.
Sebagaimana Majapahit, negara Indonesia
modern meliputi wilayah yang luas dan secara politik berpusat di pulau Jawa.
K.Arsitektur
Majapahit memiliki pengaruh
yang nyata dan berkelanjutan dalam bidang arsitektur di Indonesia.
Penggambaran bentuk paviliun (pendopo) berbagai bangunan di ibukota Majapahit
dalam kitab Negarakretagama telah menjadi inspirasi bagi arsitektur berbagai
bangunan keraton di Jawa serta Pura dan kompleks perumahan masyarakat di Bali
masa kini.
L.Persenjataan
Pada zaman Majapahit terjadi
perkembangan, pelestarian, dan penyebaran teknik pembuatan keris berikut fungsi
sosial dan ritualnya. Teknik pembuatan keris mengalami penghalusan dan
pemilihan bahan menjadi semakin selektif. Keris pra-Majapahit dikenal berat
namun semenjak masa ini dan seterusnya, bilah keris yang ringan tetapi kuat
menjadi petunjuk kualitas sebuah keris. Penggunaan keris sebagai tanda
kebesaran kalangan aristokrat juga berkembang pada masa ini dan meluas ke
berbagai penjuru Nusantara, terutama di bagian barat.
Selain keris, berkembang pula
teknik pembuatan dan penggunaan tombak.
M.Kesenian
Modern
Kebesaran kerajaan ini dan
berbagai intrik politik yang terjadi pada masa itu menjadi sumber inspirasi
tidak henti-hentinya bagi para seniman masa selanjutnya untuk menuangkan
kreasinya, terutama di Indonesia.
Berikut adalah daftar beberapa karya seni yang berkaitan dengan masa tersebut.
N.Puisi Lama
Serat Darmagandhul, sebuah
kitab yang tidak jelas penulisnya karena menggunakan nama pena Ki Kalamwadi,
namun diperkirakan dari masa Kasunanan Surakarta. Kitab ini berkisah tentang
hal-hal yang berkaitan dengan perubahan keyakinan orang Majapahit dari agama
sinkretis "Buda" ke Islam dan sejumlah ibadah yang perlu dilakukan
sebagai umat Islam.
O.Komik dan Strip Komik
Serial
"Mahesa Rani" karya Teguh Santosa yang dimuat di Majalah Hai,
mengambil latar belakang pada masa keruntuhan Singhasari hingga awal-awal
karier Mada (Gajah Mada), adik seperguruan Lubdhaka, seorang rekan Mahesa
Rani.
Komik/Cerita
bergambar Imperium Majapahit, karya Jan Mintaraga.
Komik
Majapahit karya R.A. Kosasih
Strip komik
"Panji Koming" karya Dwi Koendoro yang dimuat di surat kabar "Kompas"
edisi Minggu, menceritakan kisah sehari-hari seorang warga Majapahit
bernama Panji Koming.
P.Roman/Novel Sejarah
Sandyakalaning
Majapahit (1933), roman sejarah dengan setting masa keruntuhan Majapahit,
karya Sanusi Pane.
Kemelut Di
Majapahit, roman sejarah dengan setting masa kejayaan Majapahit, karya Asmaraman
S. Kho Ping Hoo.
Zaman
Gemilang (1938/1950/2000), roman sejarah yang menceritakan akhir masa
Singasari, masa Majapahit, dan berakhir pada intrik seputar terbunuhnya
Jayanegara, karya Matu Mona/Hasbullah Parinduri.
Senopati
Pamungkas (1986/2003), cerita silat dengan setting runtuhnya Singhasari
dan awal berdirinya Majapahit hingga pemerintahan Jayanagara, karya Arswendo
Atmowiloto.
Dyah
Pitaloka - Senja di Langit Majapahit (2005), roman karya Hermawan Aksan
tentang Dyah Pitaloka Citraresmi, putri dari Kerajaan Sunda yang gugur
dalam Peristiwa Bubat.
Gajah Mada
(2005), sebuah roman sejarah berseri yang mengisahkan kehidupan Gajah Mada
dengan ambisinya menguasai Nusantara, karya Langit Kresna Hariadi.
Q.Film/Sinetron
Tutur
Tinular, suatu adaptasi film karya S. Tidjab dari serial sandiwara radio.
Kisah ini berlatar belakang Singhasari pada pemerintahan Kertanegara
hingga Majapahit pada pemerintahan Jayanagara.
Saur Sepuh,
suatu adaptasi film karya Niki Kosasih dari serial sandiwara radio yang
populer pada awal 1990-an. Film ini sebetulnya lebih berfokus pada sejarah
Pajajaran namun berkait dengan Majapahit pula.
Walisongo, sinetron
Ramadhan tahun 2003 yang berlatar Majapahit di masa Brawijaya V hingga
Kesultanan Demak di zaman Sultan Trenggana.