Bila menilik dari catatan sejarah ataupun
prasasti yang ada, tidak ada penjelasan atau catatan yang pasti mengenai
siapakah yang pertama kalinya mendirikan kerajaan Tarumanegara. Raja yang
pernah berkuasa dan sangat terkenal dalam catatan sejarah adalah Purnawarman.
Pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali
Bekasi) sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu
mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.
Bukti keberadaan Kerajaan Taruma diketahui
melalui sumber-sumber yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari
dalam negeri berupa tujuh buah prasasti batu yang ditemukan empat di Bogor, satu di Jakarta
dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa kerajaan
dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan beliau
memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di
sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan
dari Kerajaan Salakanagara.
B.Prasasti Yang Ditemukan
1.Prasasti Kebon Kopi, dibuat sekitar 400 M
(H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor
2.Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung
Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan
di museum di Jakarta.
Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh
Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22
masa pemerintahannya.Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk
menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa
pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.
3.Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul,
ditemukan di aliran Sungai Cidanghiang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan
Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, berisi pujian kepada Raja Purnawarman.
4.Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor
5.Prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor
6.Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor
7.Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor
Lahan tempat prasasti itu ditemukan
berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai:
Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan
dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang
termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.
Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan
Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah "kota pelabuhan
sungai" yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten.
Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil
perkebunan kopi. Sekarang masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut
barang dagangannya ke daerah hilir.
Prasasti pada zaman ini menggunakan aksara
Sunda kuno, yang pada awalnya merupakan perkembangan dari aksara tipe Pallawa
Lanjut, yang mengacu pada model aksara Kamboja dengan beberapa cirinya yang
masih melekat. Pada zaman ini, aksara tersebut belum mencapai taraf modifikasi
bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke-16.
C.Sumber Berita Dari Luar Negeri
Sumber-sumber dari luar negeri semuanya
berasal dari berita Tiongkok.
1.Berita Fa Hien, tahun 414M dalam bukunya
yang berjudul Fa Kao Chi menceritakan bahwa di Ye-po-ti ("Jawadwipa")
hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Buddha, yang banyak adalah
orang-orang yang beragama Hindu dan "beragama kotor" (maksudnya animisme).
2.Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa
tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To-lo-mo ("Taruma") yang
terletak di sebelah selatan.
3.Berita Dinasti Tang, juga menceritakan
bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusan dari To-lo-mo.
Dari tiga berita di atas para ahli
menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara fonetis penyesuaian kata-katanya
sama dengan Tarumanegara.
Maka berdasarkan sumber-sumber yang telah
dijelaskan sebelumnya maka dapat diketahui beberapa aspek kehidupan tentang
Taruma.
Kerajaan Tarumanegara
diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M. Berdasarkan prasast-prasati
tersebut diketahui raja yang memerintah pada waktu itu adalah Purnawarman.
Wilayah kekuasaan Purnawarman menurut prasasti Tugu, meliputi hapir seluruh
Jawa Barat yang membentang dari Banten, Jakarta,
Bogor dan Cirebon.
Jumat, 18 Januari 2013
A.Berdirinya Majapahit
Arca Harihara, dewa gabungan
Siwa dan Wisnu sebagai penggambaran Kertarajasa. Berlokasi semula di Candi
Simping, Blitar, kini menjadi koleksi Museum Nasional Republik Indonesia.
Sesudah Singhasari mengusir
Sriwijaya dari Jawa secara keseluruhan pada tahun 1290, Singhasari menjadi
kerajaan paling kuat di wilayah tersebut. Hal ini menjadi perhatian Kubilai
Khan, penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng
Chi ke Singhasari yang menuntut upeti. Kertanagara, penguasa kerajaan
Singhasari yang terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan
tersebut dengan merusak wajahnya dan memotong telinganya. Kublai Khan marah dan
lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293.
Ketika itu, Jayakatwang,
adipati Kediri,
sudah membunuh Kertanagara. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan
pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu Kertanegara, yang datang menyerahkan
diri. Raden Wijaya kemudian diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan
membangun desa baru. Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya diambil dari buah
maja, dan rasa "pahit" dari buah tersebut. Ketika pasukan Mongol
tiba, Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol untuk bertempur melawan
Jayakatwang. Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa
mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-kabut karena mereka
berada di teritori asing. Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka
untuk menangkap angin muson agar dapat pulang, atau mereka harus terpaksa
menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.
Tanggal pasti yang digunakan
sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit adalah hari penobatan Raden Wijaya
sebagai raja, yaitu pada tanggal 10 November 1293. Ia dinobatkan dengan nama
resmi Kertarajasa Jayawardhana. Kerajaan ini menghadapi masalah. Beberapa orang
terpercaya Kertarajasa, termasuk Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak
melawannya, meskipun pemberontakan tersebut tidak berhasil. Slamet Muljana
menduga bahwa mahapatih Halayudha lah yang melakukan konspirasi untuk
menjatuhkan semua orang terpercaya raja, agar ia dapat mencapai posisi
tertinggi dalam pemerintahan. Namun setelah kematian pemberontak terakhir
(Kuti), Halayudha ditangkap dan dipenjara, dan lalu dihukum mati. Wijaya
meninggal dunia pada tahun 1309.
Anak dan penerus Wijaya,
Jayanegara, adalah penguasa yang jahat dan amoral. Ia digelari Kala Gemet, yang
berarti "penjahat lemah". Pada tahun 1328, Jayanegara dibunuh oleh
tabibnya, Tanca. Ibu tirinya yaitu Gayatri Rajapatni seharusnya
menggantikannya, akan tetapi Rajapatni memilih mengundurkan diri dari istana
dan menjadi pendeta wanita. Rajapatni menunjuk anak perempuannya Tribhuwana
Wijayatunggadewi untuk menjadi ratu Majapahit. Selama kekuasaan Tribhuwana,
kerajaan Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di daerah
tersebut. Tribhuwana menguasai Majapahit sampai kematian ibunya pada tahun
1350. Ia diteruskan oleh putranya, Hayam Wuruk.
B.Kejayaan Majapahit
Terakota wajah yang dipercaya
sebagai potret Gajah Mada.
Hayam Wuruk, juga disebut
Rajasanagara, memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masanya
Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan bantuan mahapatihnya, Gajah Mada.
Di bawah perintah Gajah Mada (1313-1364), Majapahit menguasai lebih banyak
wilayah. Pada tahun 1377, beberapa tahun setelah kematian Gajah Mada, Majapahit
melancarkan serangan laut ke Palembang,
menyebabkan runtuhnya sisa-sisa kerajaan Sriwijaya.
Menurut Kakawin Nagarakretagama
pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya,
Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian
kepulauan Filipina. Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa
daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan
terpusat Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang
mungkin berupa monopoli oleh raja. Majapahit juga memiliki hubungan dengan
Campa, Kamboja, Siam,
Birma bagian selatan, dan Vietnam,
dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok.
C.Jatuhnya Majapahit
Sesudah mencapai puncaknya pada
abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah. Tampaknya terjadi
perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan
Wikramawardhana. Demikian pula telah terjadi pergantian raja yang
dipertengkarkan pada tahun 1450-an, dan pemberontakan besar yang dilancarkan
oleh seorang bangsawan pada tahun 1468.
Dalam tradisi Jawa ada sebuah
kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi.
Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai
0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna
hilanglah kemakmuran bumi”. Namun demikian yang sebenarnya digambarkan oleh
candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi, raja ke-11 Majapahit,
oleh Girindrawardhana.
Ketika Majapahit didirikan,
pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki Nusantara. Pada
akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh Nusantara
mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang
berdasarkan Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat
Nusantara.
Catatan sejarah dari Tiongkok,
Portugis (Tome Pires), dan Italia (Pigafetta) mengindikasikan bahwa telah
terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan
Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M.
D.Kebudayaan
Gapura Bajangratu, diduga kuat
menjadi gerbang masuk keraton Majapahit. Bangunan ini masih tegak berdiri di
kompleks Trowulan.
Ibu kota
Majapahit di Trowulan merupakan kota
besar dan terkenal dengan perayaan besar keagamaan yang diselenggarakan setiap
tahun. Agama Buddha, Siwa, dan Waisnawa (pemuja Wisnu) dipeluk oleh penduduk
Majapahit, dan raja dianggap sekaligus titisan Buddha, Siwa, maupun Wisnu.
Walaupun batu bata telah
digunakan dalam candi pada masa sebelumnya, arsitek Majapahitlah yang paling
ahli menggunakannya. Candi-candi Majapahit berkualitas baik secara geometris
dengan memanfaatkan getah tumbuhan merambat dan gula merah sebagai perekat batu
bata. Contoh candi Majapahit yang masih dapat ditemui sekarang adalah Candi
Tikus dan Candi Bajangratu di Trowulan, Mojokerto.
E.Ekonomi
Celengan zaman Majapahit, abad
14-15 Masehi Trowulan, Jawa Timur. (Koleksi
Museum Gajah, Jakarta)
Majapahit merupakan negara
agraris dan sekaligus negara perdagangan. Majapahit memiliki pejabat sendiri
untuk mengurusi pedagang dari India dan Tiongkok yang menetap di ibu kota kerajaan maupun
berbagai tempat lain di wilayah Majapahit di Jawa.
Menurut catatan Wang Ta-yuan,
pedagang Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain,
dan burung kakak tua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak,
sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Mata uangnya dibuat dari campuran
perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan Odorico da
Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321,
menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan
permata.
F.Struktur Pemerintahan
Majapahit memiliki struktur
pemerintahan dan susunan birokrasi yang teratur pada masa pemerintahan Hayam
Wuruk, dan tampaknya struktur dan birokrasi tersebut tidak banyak berubah
selama perkembangan sejarahnya. Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia
dan ia memegang otoritas politik tertinggi.
G.Aparat Birokrasi
Raja dibantu oleh sejumlah
pejabat birokrasi dalam melaksanakan pemerintahan, dengan para putra dan
kerabat dekat raja memiliki kedudukan tinggi. Perintah raja biasanya diturunkan
kepada pejabat-pejabat di bawahnya, antara lain yaitu:
Rakryan
Mahamantri Katrini, biasanya dijabat putra-putra raja
Rakryan
Mantri ri Pakira-kiran, dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan
Dharmmadhyaksa,
para pejabat hukum keagamaan
Dharmma-upapatti,
para pejabat keagamaan
Dalam Rakryan Mantri ri
Pakira-kiran terdapat seorang pejabat yang terpenting yaitu Rakryan Mapatih
atau Patih Hamangkubhumi. Pejabat ini dapat dikatakan sebagai perdana menteri
yang bersama-sama raja dapat ikut melaksanakan kebijaksanaan pemerintahan.
Selain itu, terdapat pula semacam dewan pertimbangan kerajaan yang anggotanya
para sanak saudara raja, yang disebut Bhattara Saptaprabhu.
H.Pembagian Wilayah
Di bawah raja Majapahit
terdapat pula sejumlah raja daerah, yang disebut Paduka Bhattara. Mereka
biasanya merupakan saudara atau kerabat dekat raja dan bertugas dalam
mengumpulkan penghasilan kerajaan, penyerahan upeti, dan pertahanan kerajaan di
wilayahnya masing-masing. Dalam Prasasti Wingun Pitu (1447 M) disebutkan bahwa
pemerintahan Majapahit dibagi menjadi 14 daerah bawahan, yang dipimpin oleh
seseorang yang bergelar Bhre. Daerah-daerah bawahan tersebut yaitu:
Daha
Jagaraga
Kabalan
Kahuripan
Keling
Kelinggapura
Kembang
Jenar
Matahun
Pajang
Singhapura
Tanjungpura
Tumapel
Wengker
Wirabumi
I.Raja – Raja Majapahit
Genealogi keluarga kerajaan
Majapahit. Penguasa ditandai dalam gambar ini.Berikut adalah daftar penguasa
Majapahit. Perhatikan bahwa terdapat periode kekosongan antara pemerintahan
Rajasawardhana (penguasa ke-8) dan Girishawardhana yang mungkin diakibatkan
oleh krisis suksesi yang memecahkan keluarga kerajaan Majapahit menjadi dua
kelompok.
Raden Wijaya,
bergelar Kertarajasa Jayawardhana (1293 - 1309)
Kalagamet,
bergelar Sri Jayanagara (1309 - 1328)
Sri
Gitarja, bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328 - 1350)
Hayam
Wuruk, bergelar Sri Rajasanagara (1350 - 1389)
Wikramawardhana
(1389 - 1429)
Suhita (1429
- 1447)
Kertawijaya,
bergelar Brawijaya I (1447 - 1451)
Rajasawardhana,
bergelar Brawijaya II (1451 - 1453)
Purwawisesa
atau Girishawardhana, bergelar Brawijaya III (1456 - 1466)
Bhre
Pandansalas, atau Suraprabhawa, bergelar Brawijaya IV (1466 - 1468)
Bhre
Kertabumi, bergelar Brawijaya V (1468 - 1478)
Girindrawardhana,
bergelar Brawijaya VI (1478 - 1498)
Hudhara,
bergelar Brawijaya VII (1498-1518)
J.Warisan Sejarah
Arca pertapa Hindu dari masa
Majapahit akhir. KoleksiMuseum für Indische
Kunst, Berlin-Dahlem,
Jerman. Majapahit telah menjadi sumber inspirasi kejayaan masa lalu bagi
bangsa-bangsa Nusantara pada abad-abad berikutnya.
Legitimasi
Politik
Kesultanan-kesultanan Islam Demak,
Pajang, dan Mataram berusaha mendapatkan legitimasi atas kekuasaan mereka
melalui hubungan ke Majapahit. Demak menyatakan legitimasi keturunannya melalui
Kertabhumi; pendirinya, Raden Patah, menurut babad-babad keraton Demak
dinyatakan sebagai anak Kertabhumi dan seorang Putri Cina, yang dikirim ke luar
istana sebelum ia melahirkan. Penaklukan Mataram atas Wirasaba tahun 1615 yang
dipimpin langsung oleh Sultan Agung sendiri memiliki arti penting karena
merupakan lokasi ibukota Majapahit. Keraton-keraton Jawa Tengah memiliki
tradisi dan silsilah yang berusaha membuktikan hubungan para rajanya dengan
keluarga kerajaan Majapahit — sering kali dalam bentuk makam leluhur, yang di
Jawa merupakan bukti penting — dan legitimasi dianggap meningkat melalui
hubungan tersebut. Bali secara khusus mendapat pengaruh besar dari Majapahit,
dan masyarakat Bali menganggap diri mereka
penerus sejati kebudayaan Majapahit.
Para penggerak nasionalisme
Indonesia modern, termasuk mereka yang terlibat Gerakan Kebangkitan Nasional di
awal abad ke-20, telah merujuk pada Majapahit, disamping Sriwijaya, sebagai
contoh gemilang masa lalu Indonesia. Majapahit kadang dijadikan acuan batas
politik negara Republik Indonesia
saat ini. Dalam propaganda yang dijalankan tahun 1920-an, Partai Komunis
Indonesia menyampaikan visinya tentang masyarakat tanpa kelas sebagai
penjelmaan kembali dari Majapahit yang diromantiskan. Sukarno juga mengangkat
Majapahit untuk kepentingan persatuan bangsa, sedangkan Orde Baru
menggunakannya untuk kepentingan perluasan dan konsolidasi kekuasaan negara.
Sebagaimana Majapahit, negara Indonesia
modern meliputi wilayah yang luas dan secara politik berpusat di pulau Jawa.
K.Arsitektur
Majapahit memiliki pengaruh
yang nyata dan berkelanjutan dalam bidang arsitektur di Indonesia.
Penggambaran bentuk paviliun (pendopo) berbagai bangunan di ibukota Majapahit
dalam kitab Negarakretagama telah menjadi inspirasi bagi arsitektur berbagai
bangunan keraton di Jawa serta Pura dan kompleks perumahan masyarakat di Bali
masa kini.
L.Persenjataan
Pada zaman Majapahit terjadi
perkembangan, pelestarian, dan penyebaran teknik pembuatan keris berikut fungsi
sosial dan ritualnya. Teknik pembuatan keris mengalami penghalusan dan
pemilihan bahan menjadi semakin selektif. Keris pra-Majapahit dikenal berat
namun semenjak masa ini dan seterusnya, bilah keris yang ringan tetapi kuat
menjadi petunjuk kualitas sebuah keris. Penggunaan keris sebagai tanda
kebesaran kalangan aristokrat juga berkembang pada masa ini dan meluas ke
berbagai penjuru Nusantara, terutama di bagian barat.
Selain keris, berkembang pula
teknik pembuatan dan penggunaan tombak.
M.Kesenian
Modern
Kebesaran kerajaan ini dan
berbagai intrik politik yang terjadi pada masa itu menjadi sumber inspirasi
tidak henti-hentinya bagi para seniman masa selanjutnya untuk menuangkan
kreasinya, terutama di Indonesia.
Berikut adalah daftar beberapa karya seni yang berkaitan dengan masa tersebut.
N.Puisi Lama
Serat Darmagandhul, sebuah
kitab yang tidak jelas penulisnya karena menggunakan nama pena Ki Kalamwadi,
namun diperkirakan dari masa Kasunanan Surakarta. Kitab ini berkisah tentang
hal-hal yang berkaitan dengan perubahan keyakinan orang Majapahit dari agama
sinkretis "Buda" ke Islam dan sejumlah ibadah yang perlu dilakukan
sebagai umat Islam.
O.Komik dan Strip Komik
Serial
"Mahesa Rani" karya Teguh Santosa yang dimuat di Majalah Hai,
mengambil latar belakang pada masa keruntuhan Singhasari hingga awal-awal
karier Mada (Gajah Mada), adik seperguruan Lubdhaka, seorang rekan Mahesa
Rani.
Komik/Cerita
bergambar Imperium Majapahit, karya Jan Mintaraga.
Komik
Majapahit karya R.A. Kosasih
Strip komik
"Panji Koming" karya Dwi Koendoro yang dimuat di surat kabar "Kompas"
edisi Minggu, menceritakan kisah sehari-hari seorang warga Majapahit
bernama Panji Koming.
P.Roman/Novel Sejarah
Sandyakalaning
Majapahit (1933), roman sejarah dengan setting masa keruntuhan Majapahit,
karya Sanusi Pane.
Kemelut Di
Majapahit, roman sejarah dengan setting masa kejayaan Majapahit, karya Asmaraman
S. Kho Ping Hoo.
Zaman
Gemilang (1938/1950/2000), roman sejarah yang menceritakan akhir masa
Singasari, masa Majapahit, dan berakhir pada intrik seputar terbunuhnya
Jayanegara, karya Matu Mona/Hasbullah Parinduri.
Senopati
Pamungkas (1986/2003), cerita silat dengan setting runtuhnya Singhasari
dan awal berdirinya Majapahit hingga pemerintahan Jayanagara, karya Arswendo
Atmowiloto.
Dyah
Pitaloka - Senja di Langit Majapahit (2005), roman karya Hermawan Aksan
tentang Dyah Pitaloka Citraresmi, putri dari Kerajaan Sunda yang gugur
dalam Peristiwa Bubat.
Gajah Mada
(2005), sebuah roman sejarah berseri yang mengisahkan kehidupan Gajah Mada
dengan ambisinya menguasai Nusantara, karya Langit Kresna Hariadi.
Q.Film/Sinetron
Tutur
Tinular, suatu adaptasi film karya S. Tidjab dari serial sandiwara radio.
Kisah ini berlatar belakang Singhasari pada pemerintahan Kertanegara
hingga Majapahit pada pemerintahan Jayanagara.
Saur Sepuh,
suatu adaptasi film karya Niki Kosasih dari serial sandiwara radio yang
populer pada awal 1990-an. Film ini sebetulnya lebih berfokus pada sejarah
Pajajaran namun berkait dengan Majapahit pula.
Walisongo, sinetron
Ramadhan tahun 2003 yang berlatar Majapahit di masa Brawijaya V hingga
Kesultanan Demak di zaman Sultan Trenggana.
Sabtu, 01 Desember 2012
Kerajaaan
Sriwijaya A. Pembentukan dan Pertumbuhan Peta pengaruh Sriwijaya di abad ke-10.
Tidak banyak bukti fisik mengenai Sriwijaya yang dapat ditemukan. Menurut
Prasasti Kedukan Bukit, kekaisaran Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Çri
Yacanaca (Dapunta Hyang Sri Jayanasa). Ia memimpin 20.000 tentara (terutama
tentara darat dan beberapa ratus kapal) dari Minanga Tamwan ke Palembang, Jambi, dan
Bengkulu. Menurut sebagian sejarawan, Minanga Tamwan merujuk pada daerah di
sekitar hulu sungai Kampar di Kabupaten Lima Puluh Kota sekarang. Tambo
Minangkabau mencatat bahwa keluarga Dapunta Hyang turun dari gunung Marapi ke
hulu sungai Kampar, yang kemudian keturunannya meluaskan rantau ke selatan Sumatra. Kerajaan ini adalah pusat perdagangan dan
merupakan negara maritim. Negara ini tidak memperluas kekuasaannya diluar
wilayah kepulauan Asia Tenggara, dengan pengecualian berkontribusi untuk
populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Sekitar tahun 500, akar
Sriwijaya mulai berkembang di wilayah sekitar Palembang,
Sumatra. Kerajaan ini terdiri atas tiga zona
utama – daerah bukota muara yang berpusatkan Palembang, lembah Sungai Musi yang
berfungsi sebagai daerah pendukung dan daerah-daerah muara saingan yang mampu
menjadi pusat kekuasan saingan. Wilayah hulu sungai Musi kaya akan berbagai
komoditas yang berharga untuk pedagang Tiongkok. Ibukota diperintah secara
langsung oleh penguasa, sementara daerah pendukung tetap diperintah oleh datu lokal.
Candi Gumpung, candi Buddha di Muaro Jambi, Kerajaan Melayu yang ditaklukkan
Sriwijaya. Reruntuhan Wat (Candi) Kaew yang berasal dari zaman Sriwijaya di Chaiya, Thailand Selatan. Pada tahun 680 di
bawah kepemimpinan Jayanasa, Kerajaan Malayu takluk di bawah imperium
Sriwijaya. Penguasaan atas Malayu yang kaya emas telah meningkatkan prestise
kerajaan. Di abad ke-7, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di
Sumatera dan tiga kerajaan di Jawa menjadi bagian imperium Sriwijaya. Di akhir
abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara dan Holing berada
di bawah kekuasaan Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa
Melayu-Budha Sailendra bermigrasi ke Jawa Tengah dan berkuasa disana.
Berdasarkan prasasti Kota Kapur, imperium menguasai bagian selatan Sumatera
hingga Lampung, mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Laut China Selatan,
Laut Jawa, dan Selat Karimata. Di abad ini pula, Langkasuka di semenanjung
Melayu menjadi bagian kerajaan. Di masa berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga,
yang terletak di sebelah utara Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh
Sriwijaya. Ekspansi kerajaan ke Jawa dan semenanjung Melayu, menjadikan
Sriwijaya mengontrol dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Berdasarkan
observasi, ditemukan reruntuhan candi-candi Sriwijaya di Thailand dan Kamboja.
Di abad ke-7, pelabuhan Cham di sebelah timur Indochina
mulai mengalihkan banyak pedagang dari Sriwijaya. Untuk mencegah hal tersebut,
maharaja Dharmasetu melancarkan beberapa serangan ke kota-kota pantai di Indochina. Kota Indrapura di tepi sungai Mekong, di awal
abad ke-8 berada di bawah kendali Palembang.
Sriwijaya meneruskan dominasinya atas Kamboja, sampai raja Khmer Jayawarman II,
pendiri imperium Khmer, memutuskan hubungan dengan kerajaan di abad yang sama.
Setelah Dharmasetu, Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa pada
periode 792 sampai 835. Tidak seperti Dharmasetu yang ekspansionis,
Samaratungga tidak melakukan ekspansi militer, tetapi lebih memilih untuk
memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa. Selama masa kepemimpinannya, ia
membangun candi Borobudur di Jawa Tengah yang selesai pada tahun 825. Di abad
ke-12, wilayah imperium Sriwijaya meliputi Sumatera, Sri Lanka, semenanjung
Melayu, Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Filipina. Dengan
penguasaan tersebut, kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yang hebat
hingga abad ke-13. B. Budha Vajrayana Sebagai pusat pengajaran Budha Vajrayana,
Sriwijaya menarik banyak peziarah dan sarjana dari negara-negara di Asia. Antara lain pendeta dari Tiongkok I Ching, yang
melakukan kunjungan ke Sumatra dalam perjalanan studinya di Universitas
Nalanda, India pada tahun 671 dan 695, serta di abad ke-11, Atisha, seorang
sarjana Budha asal Benggala yang berperan dalam mengembangkan Budha Vajrayana
di Tibet. I Ching melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi ribuan sarjana
Budha. Pengunjung yang datang ke pulau ini menyebutkan bahwa koin emas telah
digunakan di pesisir kerajaan. C. Relasi Dengan Kekuatan Regional Pagoda Borom
That bergaya Sriwijaya di Chaiya,
Thailand. Dari
catatan sejarah dan bukti arkeologi, dinyatakan bahwa pada abad ke-9 Sriwijaya
telah melakukan kolonisasi di hampir seluruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara,
antara lain: Sumatra, Jawa, semenanjung
Melayu, Kamboja, dan Vietnam Selatan. Dominasi atas Selat Malaka dan Selat
Sunda, menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan
perdagangan lokal yang mengenakan biaya atas setiap kapal yang lewat. Palembang mengakumulasi kekayaannya sebagai pelabuhan dan
gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok, Melayu, dan India. Kerajaan Malayu merupakan
kekuatan pertama yang menjadi pesaing Sriwijaya yang akhirnya dapat ditaklukkan
pada abad ke-7. Di kerajaan Malayu, pertambangan emas merupakan sumber ekonomi
cukup penting dan kata Suwarnadwipa (pulau emas) mungkin merujuk pada hal ini.
Kerajaan Sriwijaya juga membantu menyebarkan kebudayaan Melayu ke seluruh
Nusantara. Pada masa awal, Kerajaan Khmer juga menjadi daerah jajahan
Sriwijaya. Banyak sejarawan mengklaim bahwa Chaiya, di propinsi SuratThani, Thailand sebagai ibu kota terakhir kerajaan, walaupun klaim
tersebut tak mendasar. Pengaruh Sriwijaya nampak pada bangunan pagoda Borom
That yang bergaya Sriwijaya. Setelah kejatuhan Sriwijaya, Chaiya terbagi menjadi
tiga kota yakni
(Mueang) Chaiya, Thatong (Kanchanadit), dan Khirirat Nikhom. Sriwijaya juga
berhubungan dekat dengan kerajaan Pala di Benggala, dan sebuah prasasti
berangka 860 mencatat bahwa raja Balaputra mendedikasikan seorang biara kepada
Universitas Nalada, Pala. Relasi dengan dinasti Chola di India selatan cukup
baik dan menjadi buruk setelah terjadi penyerangan di abad ke-11. D. Masa
Keemasan Arca emas Avalokiteçvara bergaya Malayu-Sriwijaya, ditemukan di
Rantaukapastuo, Muarabulian, Jambi,
Indonesia.
Setelah terjadi kekacauan perdagangan di Kanton antara tahun 820 - 850,
pemerintahan Jambi menyatakan diri sebagai kerajaan merdeka dengan mengirimkan
utusan ke China pada tahun 853 dan 871. Kemerdekaan Jambi bertepatan dengan
dirampasnya tahta Sriwijaya di Jawa dengan terusirnya raja Balaputradewa. Di
tahun 902, raja baru mengirimkan upeti ke China. Dua tahun kemudian raja
terakhir dinasti Tang menganugerahkan gelar kepada utusan Sriwijaya. Dari
literatur Tiongkok utusan itu mempunyai nama Arab hal ini memberikan informasi
bahwa pada masa-masa itu Sriwijaya sudah berhubungan dengan Arab yang
memungkinkan Sriwijaya sudah masuk pengaruh Islam di dalam kerajaan. Pada paruh
pertama abad ke-10, diantara kejatuhan dinasti Tang dan naiknya dinasti Song,
perdagangan dengan luar negeri cukup marak, terutama Fujian, kerajaan Min dan
negeri kaya Guangdong, kerajaan Nan Han. Tak diragukan lagi Sriwijaya
mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini. Pada tahun 903, penulis Muslim Ibn
Batutah sangat terkesan dengan kemakmuran Sriwijaya. Daerah urban kerajaan
meliputi Palembang
(khususnya Bukit Seguntang), Muara Jambi dan Kedah. E. Penurunan Tahun 1025,
Rajendra Chola, raja Chola dari Koromandel, India selatan menaklukan Kedah dari
Sriwijaya dan menguasainya. Kerajaan Chola meneruskan penyerangan dan
penaklukannya selama 20 tahun berikutnya keseluruh imperium Sriwijaya. Meskipun
invasi Chola tidak berhasil sepenuhnya, tetapi invasi tersebut telah melemahkan
hegemoni Sriwijaya yang berakibat terlepasnya beberapa wilayah dengan membentuk
kerajaan sendiri, seperti Kediri,
sebuah kerajaan yang berbasiskan pada pertanian. Antara tahun 1079 - 1088,
orang Tionghoa mencatat bahwa Sriwijaya mengirimkan duta besar dari Jambi dan Palembang. Tahun 1082 dan
1088, Jambi mengirimkan lebih dari dua duta besar ke China. Pada periode inilah pusat
Sriwijaya telah bergeser secara bertahap dari Palembang ke Jambi. Ekspedisi Chola telah
melemahkan Palembang,
dan Jambi telah menggantikannya sebagai pusat kerajaan. Berdasarkan sumber
Tiongkok pada buku Chu-fan-chiyang ditulis pada tahun 1178, Chou-Ju-Kua
menerangkan bahwa di kepulauan Asia Tenggara terdapat dua kerajaan yang sangat
kuat dan kaya, yakni Sriwijaya dan Jawa (Kediri).
Di Jawa dia menemukan bahwa rakyatnya memeluk agama Budha dan Hindu, sedangkan
rakyat Sriwijaya memeluk Budha. Berdasarkan sumber ini pula dikatakan bahwa
beberapa wilayah kerajaan Sriwijaya ingin melepaskan diri, antara lain Kien-pi
(Kampe, di utara Sumatra) dan beberapa koloni di semenanjung Malaysia. Pada masa itu wilayah
Sriwijaya meliputi; Pong-fong (Pahang), Tong-ya-nong (Trengganu),
Ling-ya-ssi-kia (Langkasuka), Kilan-tan (Kelantan), Fo-lo-an (?), Ji-lo-t'ing
(Jelutong), Ts'ien-mai (?), Pa-t'a (Batak), Tan-ma-ling (Tambralingga, Ligor),
Kia-lo-hi (Grahi, bagian utara semenanjung Malaysia), Pa-lin-fong (Palembang),
Sin-t'o (Sunda), Lan-wu-li (Lamuri di Aceh), and Si-lan (Srilanka?). Pada tahun
1288, Singasari, penerus kerajaan Kediri di Jawa, menaklukan Palembang dan Jambi selama masa ekspedisi
Pamalayu. Di tahun 1293, Majapahit pengganti Singasari, memerintah Sumatra. Raja keempat Hayam Wuruk memberikan tanggung
jawab tersebut kepada pangeran Adityawarman, seorang peranakan Minang dan Jawa.
Pada tahun 1377 terjadi pemberontakan terhadap Majapahit, tetapi pemberontakan
tersebut dapat dipadamkan walaupun di selatan Sumatra
sering terjadi kekacauan dan pengrusakan. Dimasa berikutnya, terjadi
pengendapan pada sungai Musi yang berakibat tertutupnya akses pelayaran ke Palembang. Hal ini
tentunya sangat merugikan perdagangan kerajaan. Penurunan Sriwijaya terus
berlanjut hingga lepasnya kota-kota di utara Sumatra
menjadi negara-negara merdeka. Negara-kota itu antara lain Samudera, Pasai,
Aru, dan Aceh. Masuknya Islam ke negara-negara baru tersebut, telah menjadi
ancaman Sriwijaya dari arah utara, disamping Majapahit yang menjadi ancaman
dari timur. Pada tahun 1402, Parameswara, pangeran terakhir Sriwijaya
mendirikan kesultanan Malaka di semenanjung Malaysia. F. Perdagangan Di dunia
perdagangan, Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India
dan Tiongkok, yakni dengan penguasaan atas selat Malaka dan selat Sunda. Orang
Arab mencatat bahwa Sriwijaya memiliki aneka komoditi seperti kamper, kayu
gaharu, cengkeh, pala, kepulaga, gading, emas, dan timah yang membuat raja Sriwijaya
sekaya raja-raja di India.
Kekayaan yang melimpah ini telah memungkinkan Sriwijaya membeli kesetiaan dari
vassal-vassalnya di seluruh Asia Tenggara. G. Pengaruh Budaya Kerajaan
Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India, pertama oleh budaya Hindu dan
kemudian diikuti pula oleh agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan di
Sriwijaya pada tahun 425 Masehi. Sriwijaya merupakan pusat terpenting agama
Buddha Mahayana. Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu melewati
perdagangan dan penaklukkan dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9. Pada masa
yang sama, agama Islam memasuki Sumatra melalui Aceh yang telah tersebar
melalui hubungan dengan pedagang Arab dan India. Pada tahun 1414, pangeran
terakhir Sriwijaya yang berhijrah ke Semenanjung Malaya
dan mendirikan Kesultanan Melaka, Parameswara, memeluk agama Islam. Agama
Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana disebarkan di pelosok
kepulauan Nusantara dan Palembang
menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Pada tahun 1017, 1025, dan 1068,
Sriwijaya telah diserbu raja Chola dari kerajaan Cholamandala (India Selatan)
yang mengakibatkan hancurnya jalur perdagangan. Pada serangan kedua tahun 1025,
raja Sri Sanggramawidjaja Tungadewa ditawan. Pada masa itu juga, Sriwijaya
telah kehilangan monopoli atas lalu-lintas perdagangan Tiongkok-India.
Akibatnya kemegahan Sriwijaya menurun. Pada tahun 1088, Kerajaan Malayu yang
dahulunya menjadi taklukan Sriwijaya, menjadi pusat pemerintahan Sriwijaya. H.
Pengaruh Islam Sangat dimungkinkan bahwa Sriwijaya yang dikenal sebagai pusat
agama Budha sangat dipengaruhi oleh pengunjung-pengunjung muslim, sehingga
kerajaan ini menjadi cikal-bakal kerajaan-kerajaan Islam di Sumatra kelak,
disaat melemahnya Sriwijaya. Ditenggarai karena pengaruh orang muslim Arab yang
banyak berkunjung di Sriwijaya maka, raja Sriwijaya yang bernama Sri
Indrawarman masuk Islam pada tahun 718. Sehingga sangat dimungkinkan kehidupan
sosial Sriwijaya adalah masyarakat sosial yang di dalamnya terdapat masyarakat
Budha dan Muslim sekaligus. Tercatat beberapa kali raja Sriwijaya berkirim
surat ke khalifah Islam di Suriah. Bahkan disalah satu naskah surat adalah
ditujukan kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720M) dengan permintaan agar
khalifah sudi mengirimkan da'i ke istana Sriwijaya. KATA PENUTUP Demikian yang
dapat penulis buat dalam Tugas Remidi Sejarah ini tentunya pembuatan ini untuk
menuntaskan mata pelajaran yang belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Materi.
Apabila ada kesalahan dalam pembuatan mohon kritk dan saran agar pembuatan
selanjutnya bisa menjadi lebih baik lagi.